Ini Kelebihan Pasar Tradisional daripada Hipermarket
Jakarta -Beberapa harga sayur di pasar moderen seperti
hipermarket lebih murah ketimbang di pasar tradisional. Meski demikian,
pedagang pasar tradisional menanggapi perbedaan harga antara kedua pasar
ini masih tergolong wajar. Kelebihan pasar tradisional bisa ditawar dan
bisa berutang.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Pedagang Pasar Tradisional, Ngadiran mengatakan, perbedaan harga tersebut tidak mencapai angka ribuan rupiah untuk jenis sayur mayur yang sama.
"Ya sebenarnya kan gini, kadang-kadang perbedaannya itu kan nggak sampe juga angka ribuan rupiah. Kadang-kadang kan hanya ratusan rupiah," kata Ngadiran kepada detikFinance, Rabu (3/4/2013).
Ia mencontohkan untuk komoditi seperti cabai merah di pasar tradisional Rp 31.000/Kg, bisa didapatkan di pasar moderen dengan perkiraan harga lebih murah, yakni Rp 30.625/Kg. Namun, menurutnya, perbedaan harga tersebut akan impas jika diperhitungkan dengan waktu, ongkos, dan biaya lain jika masyarakat lebih memilih belanja ke pasar moderen.
"Selisihnya kan Cuma Rp 375 tuh ya? Buat ongkos ojeknya aja, kalau misalnya pake itung-itungan buat parkir, buat segala macem buang waktu, misalnya. Kan nggak imbang. Tapi orang namanya masyarakat seperti kita ini kan angka yang sekecil itu dikejar sama mereka. Nggak mikir bahwa ini akan ada selisihnya di sana jauh, buang waktu," tegas Ngadiran.
Dikatakan Ngadiran, banyak keuntungan yang tidak bisa didapatkan di supermarket yang masyarakat bisa dapatkan di pasar tradisional. Contohnya, berhutang jika masyarakat membutuhkan keperluan mendesak dalam satu kondisi tidak memiliki uang.
"Sedangkan kan kalau ke pasar tradisional bisa ngutang. Kalau saya ke warung, ke pasar tradisional, uang saya segini, bisa ngutang. Kan ndak berpikir. Dia kan kalau lagi punya duit datengnya kesana kan bawa troli. Jadi warung dan pasar tradisional itu tempat melangsungkan bertahan hidup, setelah gengsinya putus, dia ke warung," tutupnya.
(zul/hen)
Sekretaris Jenderal Asosiasi Pedagang Pasar Tradisional, Ngadiran mengatakan, perbedaan harga tersebut tidak mencapai angka ribuan rupiah untuk jenis sayur mayur yang sama.
"Ya sebenarnya kan gini, kadang-kadang perbedaannya itu kan nggak sampe juga angka ribuan rupiah. Kadang-kadang kan hanya ratusan rupiah," kata Ngadiran kepada detikFinance, Rabu (3/4/2013).
Ia mencontohkan untuk komoditi seperti cabai merah di pasar tradisional Rp 31.000/Kg, bisa didapatkan di pasar moderen dengan perkiraan harga lebih murah, yakni Rp 30.625/Kg. Namun, menurutnya, perbedaan harga tersebut akan impas jika diperhitungkan dengan waktu, ongkos, dan biaya lain jika masyarakat lebih memilih belanja ke pasar moderen.
"Selisihnya kan Cuma Rp 375 tuh ya? Buat ongkos ojeknya aja, kalau misalnya pake itung-itungan buat parkir, buat segala macem buang waktu, misalnya. Kan nggak imbang. Tapi orang namanya masyarakat seperti kita ini kan angka yang sekecil itu dikejar sama mereka. Nggak mikir bahwa ini akan ada selisihnya di sana jauh, buang waktu," tegas Ngadiran.
Dikatakan Ngadiran, banyak keuntungan yang tidak bisa didapatkan di supermarket yang masyarakat bisa dapatkan di pasar tradisional. Contohnya, berhutang jika masyarakat membutuhkan keperluan mendesak dalam satu kondisi tidak memiliki uang.
"Sedangkan kan kalau ke pasar tradisional bisa ngutang. Kalau saya ke warung, ke pasar tradisional, uang saya segini, bisa ngutang. Kan ndak berpikir. Dia kan kalau lagi punya duit datengnya kesana kan bawa troli. Jadi warung dan pasar tradisional itu tempat melangsungkan bertahan hidup, setelah gengsinya putus, dia ke warung," tutupnya.
(zul/hen)
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!
http://finance.detik.com/read/2013/04/03/121910/2210300/4/ini-kelebihan-pasar-tradisional-daripada-hipermarket


Tidak ada komentar:
Posting Komentar